Bank Sebagai Perantara Keuangan

Posted: July 5, 2013 in BLK 2

Untuk menjalankan perannya sebagai perantara keuangan antara pihak yang surplus dengan pihak yang minus (Financial Intermediary), bank harus menjaga agar laporan keuangannya berjalan dengan baik, khususnya neraca. Neraca dipengaruhi oleh dua sisi, yaitu sisi aktiva atau assets yang berperan sebagai use of fund (penggunaan dana bank) dan pasiva yang terdiri dari liabilities dan Equity yang perannya sebagai  source of fund (sumber dana bagi bank).

Sisi pasiva (Source of fund) yang yang terdapat pada neraca bank terdiri dari :

  1. Deposit, dalam hal ini deposit dapat dibagi menjadi tiga, yaitu saving deposit(tabungan), demand deposit (giro), dan time deposit (deposito). Sebagian besar dana deposit berasal dari dana masyarakat yang surplus atau dapat disebut juga sebagai dana pihak ketiga (DPK). Oleh karena itu, bank harus membayar bunga kepada pihak yang menyimpan uang (i1).
  2. Securities,  terbagi menjadi tiga, yaitu obligasi yang dijual oleh bank, pinjaman Bank Indonesia atau Kredit Likuiditas BI (KLBI), dan pinjaman holding. Untuk itu, bank harus membayar bunga (i2).
  3. Capital, terbagi menjadi tiga, yaitu setoran modal, hasil operasi (Laba Operasi – Retained Earning), dan deviden. Ketiga sumber tersebut dapat digabungkan menjadi stock. Oleh karena itu, bank harus membayar deviden (i3).

Segala sesuatu yang berhubungan dengan pasiva (source of fund) apabila bertambah di sisi kredit dan apabila berkurang di sisi debet. Kumpulan biaya – biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam upaya mendapatkan source of fund yang dikelompokkan menjadi (i1,i2, i3) disebut cost of fund.

Sedangkan, sisi aktiva (use of fund) yang terdapat pada neraca bank terdiri dari:

  1. Cash Reserves, terbagi menjadi dua, yaitu dalam bentuk uang tunai atau kas, dan simpanan di BI atau Rekening Koran pada BI (RKBI).
  2. Loan atau Credit, disebut juga sebagai Pinjaman Yang Diberikan (PYD). Dalam hal ini bank bertindak sebagai penyalur dana yang di dapat dari deposit masyarakat surplus untuk kemudian dipinjamkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan begitu, bank akan mendapatkan i4.
  3. Securities, dalam hal ini bank membeli obligasi dan stock yang kemudian menghasilkan i5.
  4. Other assets, yang merupakan aktiva lain – lain bank.

Kebalikan dari pasiva, jika akun – akun aktiva (use of fund) bertambah maka akan dicatat di sisi debet, dan jika berkurang akan dicatat di sisi kredit.

Karena fungsinya sebagai Financial Intermediary , maka sisi liabilities bank tidak diatur oleh Bank Indonesia. Sedangkan selebihnya, diatur dalam regulasi BI.

  • Regulasi 1, mengenai cash reserves.

Pada regulasi ini, kas yang ada di bank tidak diatur atau bebas jumlahnya. Sedangkan RKBI memiliki syarat yaitu besarnya setoran minimal 8% dari jumlah deposit. Jika jumlah setoran bank kurang dari syarat tersebut maka dapat dinyatakan bank tidak likuid. Hal ini diatur dalam LRR (Legal Reserve Requirement), yang selanjutnya menyangkut masalah likuiditas dan kliring.

  • Regulasi 2, mengenai Loan.

Dalam hal ini, aturan yang dikeluarkan BI adalah LDR (Loan to Deposit Ratio) yang mengharuskan bahwa setiap bank bisa menyalurkan LDR maksimal 110%.

LDR dapat dihitung dengan rumus  ={ L/(D+C)} x 100%

L  = Loan

D = Deposit

C = Capital

LDR tersebut menyangkut :

Prudent Bank, yang berarti keterlibatan capital bank dan kolektibilitas kredit yang memiliki arti lancar atau tidaknya pihak peminjam membayar kredit.

Likuiditas, jika bank memiliki LDR lebih dari 110%, maka dapat dikatakan bank tersebut tidak likuid.

Multiplier, yaitu kemampuan bank untuk melipatgandakan uang. Oleh karena itu, bank harus memiliki kecukupan modal minimal 10%.

  • Regulasi 3, mengenai Capital.

Aturan BI yang menyangkut capital adalah Capital Adequary Ratio (CAR).

Rumusnya adalah  Modal dibagi dengan  ATMR , dimana ATMR merupakan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko dan memiliki syarat minimal yaitu 20%.

Misal :

Bank memiliki Pinjaman sebesar 100 juta dengan tingkat risiko 80% maka total ATMR nya adalah 80 juta.

Jika kita memiliki tabungan di bank, maka yang dapat kita lakukan adalah mencairkan uang secara tunai melalui ATM atau teller dan melakukan pemindahbukuan. Begitu pula jika kita memiliki rekening deposit. Namun, jika kita memiliki rekening giro, kita dapat mencairkan uang memalui cek (atas unjuk) dan bilyet giro. Dalam hal ini, cek juga bisa ditunaikan dan dipindahbukukan, sedangkan bilyet giro hanya bisa dipindahbukukan.

Contoh:

Saat A melakukan setoran tunai sebesar 50 juta untuk tabungan, maka kas akan bertambah di sisi debet dan tabungan juga akan bertambah di sisi kredit masing – masing sebesar 50 juta.

Kas                                         Rp. 50.000.000

Tabungan                                            Rp. 50.000.000

Kemudian A melakukan pemindahbukuan dari tabungan menjadi deposito sebesar 25 juta. Maka, tabungan akan berkurang di sisi debet dan deposito akan bertambah di sisi kredit.

Tabungan                           Rp. 25.000.000

Deposito                                              Rp. 25.000.000

Sebuah bank pasti melakukan hubungan dengan bank lain setiap harinya dikarenakan transaksi yang dilakukan oleh para nasabah. Oleh karena itu, BI hadir sebagai pusat pertemuan yang menjembatani satu bank dengan bank lainnya dalam hal tukar menukar surat atau rekening yang kemudian dikenal dengan nama kliring.  Proses kliring terjadi jika transaksi dilakukan pada bank yang berbeda tetapi terletak di kota yang sama. Karena sifatnya sebagai penyedia jasa, BI kemudian memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh setiap bank yang ingin melakukan kliring, yaitu bank tersebut harus memiliki setoran RK pada BI minimal 8% dari jumlah depositnya sebagai jaminan.

BI

Proses kliring dapat diilustrasikan pada contoh kasus berikut:

Caca adalah pengusaha sepatu, ia biasa menjual sepatunya dalam jumlah besar. Oleh karena itu, ia memiliki rekening tabungan di Bank SOS Jakarta. Suatu hari, ia mendapatkan pelanggan baru yang bernama Rio. Untuk kebutuhan ekspor, Rio membeli sepatu seharga 50 juta. Rio adalah nasabah pada Bank OK yang  terletak di Jakarta dan memiliki rekening tabungan dan giro. Pada saat pembayaran dilakukan, Rio tidak membayar sejumlah tersebut dengan menggunakan uang tunai, melainkan dengan menggunakan cek atas nama Bank OK. Dengan kata lain, Rio menggunakan rekening gironya yang terdapat pada Bank OK.

Pada kasus ini, Caca ingin mencairkan cek yang diberikan Rio di Bank tempat ia menabung, yaitu Bank SOS. Oleh karena itu, Bank SOS harus mengirimkan surat pengajuan kepada Bank yang bersangkutan , yaitu Bank OK melalui Bank Indonesia cabang Jakarta. Pengajuan yang diajukan oleh Bank SOS tersebut dinamakan Nota Debet Keluar. Oleh karena kedua bank yang terlibat telah melakukan setoran RKBI, maka proses kliring dapat dilakukan. Selanjutnya BI mengurangi saldo RK milik Bank Rio dan menambah saldo RK milik Bank SOS yang terdapat pada BI. Setelah itu, BI melanjutkan surat pengajuan tersebut kepada bank yang bersangkutan, yaitu bank OK.  Surat tersebut kemudian dikenal dengan nama Nota Debet Masuk.

Setelah menerima surat dari BI yang telah mengurangi saldo rekeningnya, Bank OK juga akan mengurangi saldo giro yang dimiliki oleh Rio. Dengan begitu, rekening Giro Rio akan berkurang di sisi debet dan RK pada BI juga akan berkurang di sisi kredit sebesar 50 juta. Sebaliknya, pada Bank SOS akun RK pada BI akan bertambah di sisi debet, begitu pula dengan Tabungan Caca yang bertambah sebesar 59 juta di sisi kredit.

Seiring berjalannya waktu, kerja sama antara Rio dan Caca semakin terjalin. Disaat usaha Rio mendapat keuntungan yang besar berkat campur tangan Caca, akhirnya Rio memutuskan untuk menghadiahkan Caca berupa tabungan sebesar 20 juta yang berasal dari rekening tabungannya di Bank OK. Selanjutnya, Bank OK akan mengajukan surat kepada BI (Nota Kredit Keluar), selain itu ia juga akan mengurangi tabungan Rio di sisi debet dan mengurangi RK pada BI di sisi kredit masing-masing sebesar 20 juta. Menyikapi hal tersebut, bank kemudian akan mengurangi kembali RK bank OK pada BI sebesar 20 juta dan menambah saldo RK SOS  dengan jumlah yang sama. Di sisi lain, Bank SOS yang mewakili Caca mendapatkan Nota Kredit Masuk dari Bank OK melalui BI dan selanjutnya mendebet RK BI dan mengkredit Tabungan Caca senilai 20 juta.

Dalam Prakteknya, seringkali bank mengalami masalah dalam kliring yang kemudian menimbulkan tolakan kliring. Asumsikan bahwa dalam pembayaran sepatu sejumlah 50 juta pada kasus di atas tidak berjalan semestinya, dikarenakan saldo Giro Rio hanya sebesar 10 juta yang berarti giro tersebut tidak cukup dana untuk dibayarkan kepada Caca. Jika terjadi hal tersebut, maka Bank OK akan mengajukan Tolakan Kliring  kepada BI agar saldo RK yang ia miliki di BI ditambahkan kembali sebesar 50 juta. Sebaliknya, saldo RK bank SOS akan dikurangkan karena tolakan kliring tersebut.

Nota

Setelah mengenal proses kliring beserta surat atau Nota yang berkaitan dengannya (warkat), maka hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan dalam kliring ada dua situasi, yaitu kita dapat mengalami menang kliring atau kalah kliring. Maka dari itu, hendaknya jumlah setoran yang kita  setorkan ke BI melebihi batas minimal yang tujuannya tak lain untuk berjaga-jaga jika kita mengalami kalah kliring.

Contoh:

Deposito sebesar 100 juta, maka syarat setorannya adalah 8% dari 100 juta yaitu 8 juta (Reserve Requirement). Jika kita melakukan setoran sebesar 10 juta hal itu akan lebih baik karena kelebihan uang sebesar 2 juta (Excess Reserve) dapat digunakan untuk berjaga-jaga jika terjadi kalah kliring.

Namun, sering kali bank ada dalam posisi tidak likuid akibat kalah kliring. Yaitu ketika jumlah setorannya kurang memenuhi standar minimal yaitu 8% dari depositonya.

Contoh:

Deposito sebesar 100 juta, dengan setoran sebesar 10 juta. Jika diasumsikan terjadi kalah kliring sebesar 4 juta, maka jumlah setoran deposit hanya tersisa 6 juta. Sedangkan syarat minimal setoran adalah 8% yang berarti 8 juta. Dalam hal ini, bank tidak boleh melakukan setoran kembali kecuali pada masa periodenya (10 hari kerja atau 2 minggu). Hal yang dapat dilakukan oleh bank yang kekurangan dana adalah dengan melakukan pinjaman ke bank lain (call money). Namun, hal ini akan sangat merugikan bank yang meminjam dana karena tidak seperti pinjaman bank biasa yang menghitung bunga misal: 10% per tahun atau annum, pada call money bunga yang diberlakukan dihitung 10% per malam atau over night (ON).

Seperti telah dibahas sebelumnya, kliring bisa terjadi pada bank yang berbeda dengan syarat harus terletak di kota yang sama. Namun, jika kita ingin bertransaksi pada bank yang sama tetapi tertelak di kota yang berbeda, kita dapat melakukan proses transfer.

kliring

Pada kasus ini, A yang merupakan nasabah Bank ABC Jakarta ingin mengirimkan uang ke B, nasabah bank DEF Aceh. Alternatif atau cara yang dapat dilakukan oleh A adalah:

  • A dapat mentransfer uang tersebut dari bank ABC cabang Jakarta ke bank ABC cabang Aceh (bank yang sama, beda kota), kemudian bank ABC Aceh mengkliring ke bank DEF Aceh melalui BI Aceh.
  • ABC Jakarta melakukan kliring ke DEF Jakarta melalui BI Jakarta, kemudian DEF Jakarta mentransfer hasil kliringan tersebut ke DEF Aceh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s